Tampilkan postingan dengan label KRI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label KRI. Tampilkan semua postingan

Selasa, 30 Agustus 2016

Indonesia Mengakuisisi CIWS Buatan China Untuk Korvet Kelas Kapitan Pattimura

24 Agustus 2016

Sebuah korvet kelas Kapitan Pattimura TNI-AL serupa dengan KRI Silas Papare yang akan menerima Type 730 CIWS pada tahun 2017. Sumber: IHS / Ridzwan Rahmat

Poin kunci
- Indonesia telah memilih sistem senjata jarak dekat Type 730 untuk korvet kedua kelas Kapitan Pattimura
- Seleksi ini sejalan dengan penerapan yang lebih luas dari sistem senjata buatan Cina dalam Angkatan Bersenjata Republik Indonesia

The Indonesian Navy (Tentara Nasional Indonesia - Angkatan Laut, atau TNI-AL) telah menandatangani kontrak untuk Jenis tunggal sistem senjata jarak dekat Type 730 (closed in weapon system, CIWS) dari China North Industries (NORINCO), demikian sumber di markas TNI-AL di Cilangkap , Jakarta, setelah dikonfirmasi oleh IHS Jane pada tanggal 23 Agustus.

Sistem ini akan dipasang pada korvet kelas Kapitan Pattimura (Parchim I), KRI Silas Papare (386), dan mengganti senjata 30 mm pada kapal teresbut yang terletak di bagian depan.

Setelah instalasi sukses, Silas Papare akan menjadi kapal kedua di kelas ini yang mengoperasikan CIWS hasil pengembangan oleh Cina. Kapal sejenis, yaitu KRI Sultan Thaha Syaifuddin (376) telah sukses melakukan uji penembakan sistem dengan peluru hidup terhadap sasaran berupa target tembakan laut yang radar-reflektif dan target udara yang ditambatkan pada Agustus 2015.

Type 730 CIWS adalah sistem senjata tujuh laras Gatling gun yang dipandu radar dengan kemampuan defensif terhadap serangan amunisi presisi berpandu serta pesawat. Jenis senjata ini terpasang pada sejumlah kapal Tentara Pembebasan Rakyat Angkatan Laut (PLAN) seperti Type 051C Luzhou kelas dan Jenis kapal perusak I-kelas 052B Luyang.

Type 730 CIWS juga telah dipilih untuk TNI-AL dua dari tiga kapal cepat rudal KCR-60M.

BUMN pembuat kapal PT PAL Indonesia akan bekerja dengan NORINCO di Surabaya untuk menginstal sistem di onboard Silas Papare pada 2017.

Sumber: IHS Jane's


TOKO FARSA DI TOKOPEDIA
 
TOKO FARSA DI BUKALAPAK




Sebuah TNI-AL Kapitan Pattimura-kelas korvet mirip dengan KRI Silas Papare yang akan menerima Type 730 CIWS pada tahun 2017. Sumber: IHS / Ridzwan Rahm

Jumat, 19 Agustus 2016

Parlemen Indonesia Setujui Rencana Kementerian Pertahanan Akuisisi Satelit Komunikasi Militer

Ridzwan Rahmat, Singapura - IHS Jane Defence Weekly
28 Juni 2016

Korvet kelas Diponegoro (SIGMA) angkatan laut Indonesia KRI Sultan Iskandar Muda. Kapal ini adalah salah satu dari segelintir platform di angkatan laut yang dilengkapi dengan sistem komunikasi satelit. Sumber: TNI-AL

Poin kunci

  • Indonesia telah menyetujui rencana oleh militer untuk mengakuisisi satelit komunikasi yang akan diluncurkan pada 2019
  • Akuisisi ini diharapkan memacu penggunaan sistem komunikasi berbasis satelit di seluruh Angkatan Bersenjata Republik Indonesia
Komisi di DPR RI yang membidangi pertahanan, intelijen, dan hubungan luar negeri (Komisi I) telah menyetujui permintaan untuk pendanaan dari kementerian pertahanan negara dan Angkatan Bersenjata Indonesia (Tentara Nasional Indonesia, atau TNI) untuk mengakuisisi satelit dari Airbus Defence and Space sebesar  USD849.3 juta.
 
Rencana untuk mengakuisisi satelit telah disetujui pada tanggal 27 Juni, menurut transkrip persidangan antara Komisi I dan Kementerian Pertahanan Indonesia dan TNI, yang diterima IHS Jane pada keesokan harinya.
 
Satelit itu akan digunakan untuk komunikasi satelit militer pada frekuensi L-Band dan ditargetkan untuk diluncurkan pada 2019. Satelit diharapkan untuk dikembangkan dengan masukan dari militer dan berbagai lembaga-lembaga Indonesia lainnya, tetapi Airbus Defence and Space akan sepenuhnya bertanggung jawab untuk peluncurannya.
 
Setelah peluncuran, satelit ini diharapkan menempati orbital slot 123 derajat bujur timur. Slot orbit, yang telah dialokasikan untuk Indonesia oleh International Telecommunications Union, sebelumnya diduduki oleh satelit Garuda-1 milik Asia Cellular Satellite. Namun, satelit itu telah dibawa keluar dari orbit karena berbagai kerusakan. Biaya akuisisi satelit diharapkan akan dicairkan oleh pemerintah Indonesia selama periode lima tahun hingga 2019.

Sumber: IHS Jane's 
TOKO FARSA DI TOKOPEDIA
 
TOKO FARSA DI BUKALAPAK

Selasa, 16 Agustus 2016

Indonesia Mengalokasikan USD215 Juta Untuk Kapal Penyapu Ranjau Baru

8 Agustus 2016

Pemerintah Indonesia telah menyetujui sejumlah USD215 juta untuk Angkatan Laut Indonesia ini (Tentara Nasional Indonesia-Angkatan Laut, atau TNI-AL) tawaran untuk mengakuisisi baru kapal penanggulangan tambang (MCMVs) dan sistem yang terkait.

Persetujuan tersebut meliputi 2015-19 jangka waktu dan akan didanai melalui program kredit pertahanan luar negeri negara itu.

Indonesia saat ini mengoperasikan armada sembilan Jenis 89 (Kondor II) -kelas dan dua Pulau Rengat (Tripartit) -kelas MCMVs. Pembuluh ditugaskan antara 1970-an dan pertengahan 1980-an.

Panglima TNI-AL staf, Laksamana Ade Supandi, mengatakan laporan pada Februari 2015 bahwa layanan berusaha untuk menggantikan dua nya kapal Pulau Rengat, KRIPulau Rengat dan KRI Pulau Rupat.

Sumber: IHS Janes
TOKO FARSA DI TOKOPEDIA
 
TOKO FARSA DI BUKALAPAK

Ini Dia Kapal Baru TNI AL: KRI Tarakan-905

August 8, 2016


Senin pagi (8/8), di Dermaga Dok Kodja Bahari Jakarta Utara, Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Laksamana TNI Ade Supandi meresmikan beroperasinya KRI Tarakan-905. KRI Tarakan merupakan jenis kapal Bantu Cair Minyak (BCM) yang pertama dibuat di dalam negeri. Nantinya semua kapal BCM yang dibuat di dalam negeri akan mengacu kepada desain KRI Tarakan. Kementrian pertahanan sendiri memesan dua buah kapal BCM kelas Tarakan kepada PT. Dok Kodja Bahari. Kapal kedua rencananya akan selesai pada pertengahan atau akhir tahun 2017.

KRI Tarakan-905 memiliki bobot sekitar 2.400 ton dan panjang 122 meter. Kapal ini juga mampu dipacu hingga kecepatan 16 knot serta memiliki helipad yang mampu didarati helikopter sekelas NBell-412. Sebagai kapal BBM, KRI Tarakan mampu memuat 5.500 meter kubik bahan bakar, serta mampu melakukan bekal ulang di lautan yang dikenal dengan metode RAS atau Replenishment at Sea. Usai diresmikan, KRI Tarakan akan bergabung di Satuan Bantuan Komando Armada Timur TNI AL.

Yang unik dari kapal ini adalah kisah peresmiannya. Sebenarnya pada 2014 lalu, KRI Tarakan sempat diresmikan oleh Menhan Purnomo Yusgiantoro. Bahkan kapal ini sempat melakukansailing pass pada HUT TNI tahun 2014. Namun, akhirnya kapal dikembalikan ke pembuatnya di Dok Kodja Bahari. Ternyata, sebagian peralatan pada tahun itu belum komplit terpasang.
“Waktu itu yang penting bisa bernavigasi, kemudian berlayar dengan aman mengikuti sailing pass,” Jelas KSAL Laksamana TNI Ade Supandi. Meski demikian, pengadaan kapal yang ditandatangani pada 2011 lalu ini memang sudah sangat telat dari jadwal. “Beberapa keterlambatan itu sudah dibicarakan, termasuk dendanya sesuai aturan,” imbuh KSAL.
Hingga kini TNI AL memiliki enam buah kapal bantu cair yang usianya sudah sangat tua. Pengadaan kapal bantu logistik seharusnya juga diutamakan karena peran strategisnya. Seperti kata pepatah: amateurs talk about tactics, but professional study logistics.
Author: Valian Danendra/*ron
Sumber: Angkasa.co.id
TOKO FARSA DI TOKOPEDIA
 
TOKO FARSA DI BUKALAPAK

Jumat, 04 Desember 2015

Kapal Angkatan Laut Indonesia KRI Spica Singgah Di Kochi, India

3 Desember 2015

  Kapal angkatan laut KRI Spica Indonesia mengunjungi Kochi
Kapal angkatan laut Indonesia KRI Spica singgah di pelabuhan Kochi, India dari 2 Desember hingga 6 Desember. Mayor (L) Anom Puji Hascaryo adalah Komandan kapal Indonesia yang berkunjung itu. Selama kunjungan, berbagai kegiatan interaksi dengan Komando Selatan Angkatan Laut India telah direncanakan. 

BACA ARTIKEL LENGKAP